Sementara negara-negara di Asia Tenggara lainnya terus memberlakukan undang-undang yang ketat terhadap ganja, Thailand justru terus membuat program ganja medis berkembang dengan pesat. Melalui Kementerian Kesehatan Masyarakat, Thailand telah resmi menghapus benih dan ekstraksi ganja dari daftar zat Narkotika yang termasuk di dalam Golongan 5 Undang-Undang Narkotika Thailand.

Sebelumnya, semua bentuk ganja termasuk Golongan 5 Undang-Undang Narkotika. Kepemilikan ganja atau obat-obatan yang termasuk Golongan 5 akan dikenakan denda hingga 1.5 juta Baht atau setara dengan Rp 693 juta dan penjara maksimal 15 tahun, dilansir dari merryjane.com.

Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnavirakul mengatakan bahwa ia yakin regulasi baru ini akan bermanfaat bagi perkembangan ekonomi Thailand. Regulasi baru ini memungkinkan pengunaan minyak ganja maupun hemp akan efektif digunakan sebagai bahan obat-obatan, makanan, dan produk kosmetik buatan lokal, dilansir dari bangkokpost.com.

Varietas hemp sendiri didefinisikan oleh Badan Kontrol Narkotika (Office of the Narcotics Control Board/ONCB) sebagai tanaman Cannabis sativa L yang mengandung tidak lebih dari 0.5% THC (Tetrahydrocannabinol) pada bunga dan batangnya. Menurut ONCB, ekstrak dari hemp dapat digunakan untuk pengobatan maupun produk herbal. Pada tanaman hemp kandungan CBD (Cannabidiol) mengandung rasio lebih besar dari kandungan (THC).

CBD sendiri adalah salah satu kandungan aktif dalam hemp yang memiliki nilai pengobatan. Sedangkan THC adalah kandungan yang memiliki sifat psikoaktif dan bertanggung jawab atas gitingnya seseorang.

Dimulai dari tanggal 27 Agustus 2019, dalam lima tahun ke depan, hanya produsen berlisensi yang akan diizinkan memproduksi produk hemp. Highland Research dan Development Institute telah diberikan izin untuk menanam hemp di provinsi Chiang Mai, Chiang Rai, Nan, Tak, dan Phetchabun. Tanaman hemp yang ditemukan di provinsi-provinsi tersebut memiliki serat berkualitas tinggi yang cocok digunakan dalam industri tekstil, dilansir dari timesofcbd.com.

Terlepas dari perubahan peraturan tersebut, Sekretaris Jenderal ONCB Niyom Termsrisuk mengatakan bahwa kepemilikan dan penanaman ganja tetap tidak diperbolehkan. Dengan kata lain, tanaman hemp dan ganja lainnya tetap dianggap zat Narkotika Golongan 5.

“Penanaman, impor, ekspor, penjualan, kepemilikan, dan konsumsi ganja tanpa izin tetaplah ilegal,” tegas Niyom.

Meskipun masih sangat terbatas cakupannya, program ganja medis di Thailand telah berkembang pesat dalam waktu yang singkat. Kemajuan dari program tersebut dapat dilihat dari distribusi 10.000 botol minyak ganja ekstrak yang telah didistribusi ke rumah sakit di seluruh Thailand. Para dokter telah memberikan obat dari ganja kepada 4.000 pasien terdaftar yang menderita sakit kronis, gangguan kejang, Alzheimer, dan penyakit lainnya.

 

 

Foto: Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnavirakul