Asia Tenggara memiliki beberapa hukuman terberat di dunia terkait penggunaan atau kepemilikan ganja. Akan tetapi,Thailand muncul sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan ganja sebagai kepentingan medis dan penelitian.

Sebelumnya, ganja telah digunakan masyarakat Thailand sebagai obat tradisional hingga kemudian dilarang penggunaannya pada tahun 1930-an.

Legalisasi ganja tersebut disahkan oleh parlemen yang dibentuk oleh rezim militer Thailand. Pada pembahasannya, Parlemen Thailand memberikan dukungan atas diubahnya UU Narkotika tahun 1979.

Dilansir dari Pikiran-rakyat.com, 1 Maret 2019, Pemeintah Thailand resmi melegalkan ganja sebagai keperluan medis pada 1 Januari 2019.

Ganja sebagai kepentingan medis ini kemudian akan diatur ketat oleh pemerintah Thailand melalui lisensi produksi dan penjualan. Kepemilikan ganja secara perorangan dalam jumlah tertentu diatur dengan memiliki resep dan sertifikasi yang diakui oleh pemerintah.

Pemerintah Thailand menegaskan bahwa undang-undang tersebut juga berlaku untuk Kratom yang merupakan tanaman stimulan.

Berbeda dengan di Singapura, Indonesia, dan Malaysia yang memiliki hukuman mati bagi para penyalur ganja. Legalisasi ganja di Thailand lebih berkaitan dengan pengajuan izin hak paten ganja oleh perusahaan asing.

Para aktivis ganja di Thailand menilai, hal ini dapat memberikan keuntungan bagi pihak asing untuk mendominasi pasar di Thailand. Kondisi ini juga akan mempersulit pihak-pihak lokal untuk mengakses ganja seperti pasien dan peneliti.

Para aktivis menambahkan, dengan adanya legalisasi ganja sebagai kepentingan medis ini akan membukan jalan bagi legalisasi ganja yang bersifat rekreatif.

Merujuk pada legalisasi ganja di Thailand, menarik untuk ditunggu bagaimana negara Indonesia menyikapi perihal ganja sebagai upaya solutif dalam kepentingan medis.

Perlu digarisbawahi, bahwa masih banyak hal positif dalam pemanfaatan ganja yang masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Untuk itu, Indonesia perlu berkaca kepada apa yang telah dilakukan Thailand dalam pemanfaatan ganja sebagai salah satu upaya solutif di bidang medis.