Larangan Ganja di Sri Lanka (dulu Ceylon) telah dimulai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang diprakarsai oleh pemerintah kolonial Inggris. Sejak merdekanya Sri Lanka dari pendudukan Inggris pada tahun 1948, Sri Lanka tetap mempertahankan larangan ganja mulai dari produksi, penjualan, dan kepemilikan yang tertera di dalam Undang-undang Racun, Opium, Obat-obatan Berbahaya (Poisons, Opium, and Dangerous Drugs Act). Hal ini berbanding terbalik dengan kebudayaan setempat yang telah menggunakan ganja sebagai pengobatan.

Sejak zaman dahulu, ganja dalam dosis kecil telah digunakan dalam pengobatan ayurveda. Dalam pengobatan ayurveda, ganja digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan seperti gangguan pencernaan, nyeri sendi, maupun impotensi.

Pengobatan Ayurveda sendiri adalah pengobatan tradisonal yang dimulai dari era Hindu awal. Ayurveda menggunakan berbagai macam ramuan dan obat-obatan alami yang bertujuan untuk menyembuhkan tubuh dan pikiran. Uniknya, Sri Lanka memiliki jumlah praktisi ayurveda yang lebih banyak daripada dokter professional, dilansir dari uk.reuters.com.

Meningkatnya penggunaan ganja dalam memenuhi kebutuhan rekreasional telah membuat hukum menjadi lebih ketat perihal obat-obatan. Dengan kata lain, produsen ayurveda telah mengalami kesulitan dalam mengakses ganja berkualitas baik yang nantinya akan dipakai sebagai media pengobatan.

Terlepas dari ilegalitas ganja, pihak berwenang di Sri Lanka sebelumnya telah mengakui potensi medis dari ganja. Ketika ganja disita oleh penegak hukum, ganja kerap dialokasikan untuk para praktisi ayurveda yang selanjutnya dialihfungsikan sebagai obat.

“Pada saat para dokter (prkatisi ayurveda) dapat mengakses ganja, usia ganja tersebut telah mencapai empat hingga lima tahun dari masa penyiangan. Hal ini telah membuat ganja kehilangan keefektifitasannya dalam mengatasi berbagai gejala,” ujar Menteri Kesehatan, Nutrisi, dan Pengobatan Tradisional Sri Lanka Rajitha Senaratne, dilansir dari pulse.lk.

Pada bulan Maret 2018, pemerintah Sri Lanka telah membuat pengecualian untuk pengobatan dengan menggunakan ganja. Rajitha Senaratne mengatakan bahwa kabinet telah memutuskan untuk menyegerakan penanaman ganja sebagai tujuan pengobatan ayurveda.

Distrik Anuradhapura dan Polonnaruwa dipilih sebagai tempat penanaman ganja seluas 100 acre (40-an hektar). Dari penanaman tersebut, pemerintah memperikarakan akan menghasilkan 25.000 kg obat tiap tahunnya dan akan digunakan sebagai pengobatan ayurveda maupun ekspor ke Amerika Utara, dilansir dari idpc.net.

Legalnya penanaman ganja secara masif di Sri Lanka telah membuat ganja diakui sebagai salah satu media pengobatan. Dengan kata lain, ganja yang merupakan bagian dari kebudayaan asli Sri Lanka telah mendapatkan tempat dan pengakuan dari sudut pandang pemerintah. Di sisi lain, manifestasi ganja dalam kebudayaan dapat berjalan searah dengan kebutuhan dan tujuan medis.

 

 

 

 

Foto: Menteri Kesehatan, Nutrisi, dan Pengobatan Tradisional Sri Lanka, Rajitha Senaratne.