Rona keadilan bagi Fidelis Ari Sudawoto mulai terlihat, dalam sidang lanjutan kasusnya yang digelar di Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, pada Rabu 12 Juli 2017.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu, pihak jaksa menemukan sejumlah bukti bahwa dari tiga pasal yang didakwakan kepada Fidelis (pasal 113(2), 111(2), dan 116(1) UU No. 35/2009), ternyata hanya pasal 111(2) saja yang dapat dibuktikan di pengadilan.

Pasal 111(2) itu sendiri berbunyi:

“Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga),”

Dengan alasan itulah, pihak JPU pun menyatakan jika mereka hanya bisa menuntut pidana selama 5 bulan penjara, dan denda 800 juta rupiah subsider 1 bulan penjara.

Tim jaksa menilai, selain fakta tentang penggunaan medis yang dapat di buktikan di kasus Fidelis ini, tuntutan kepada Fidelis sangat dipengaruhi oleh keterangan ahli pidana Dr. Sy. Hasyim Azizurahman, SH, MH, Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Poin-poin penting pada keterangan ahli pidana yang disampaikan itu antara lain adalah:

1. Tujuan penegakan hukum adalah kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Jika terjadi benturan, yang harus dikedepankan ialah kemanfaatan, lalu keadilan dan yang terakhir ialah kepastian hukum.

2. Untuk meminta pertanggungjawaban pidana, niat, modus, locus delicti (tempat kejadian perkara), dan tempus delicti (waktu kejadian perkara) harus dilihat secara kumulatif dan komprehensif.

3. Fokus pengadilan harus ditempatkan pada pelayanan terhadap masyarakat, tidak melulu pada penghukuman.

4. Implementasi UU Narkotika tidak boleh lepas dari pertimbangan-pertimbangan yang membentuknya, yang salah satu di antaranya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

5. Pasal 3 UU Narkotika menyebutkan beberapa asas yang perlu dipertimbangkan dalam implementasinya termasuk juga dalam aspek penegakan hukum. Salah satu dari asas-asas tersebut adalah keadilan. Hal ini sebaiknya juga jangan dilepaskan dari latar belakang pembentukan kata “Pengadilan” sebagai tempat masyarakat mencari keadilan.

Kasus ganja yang menjadi perhatian publik

Selain keterangan dari ahli pidana, JPU juga mempertimbangkan dukungan masyarakat lewat viralnya pemberitaan di media massa dan media sosial, terkait kasus Fidelis ini. Dalam pertimbangan keadilan mereka, aspek ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kontribusi dan perjuangan penuh, yang selama ini gencari dilakukan oleh sejumlah masyarakat -termasuk para pasien pejuang kanker- hingga beragam advokasi dan edukasi yang selama ini dilakukan oleh rekan-rekan pejuang reformasi kebijakan ganja di seluruh nusantara.

Sidang Fidelis selanjutnya dijadwalkan akan berlangsung pada hari Rabu, 19 Juli 2017. Agenda dari sidang itu sendiri yakni pembacaan nota pembelaan, baik dari tim penasihat hukum dan pihak terdakwa Fidelis Ari. Pada akhirnya, publik pun masih sangat menunggu vonis akhir dari majelis hakim, terkait kasus pengobatan dengan menggunakan ganja medis yang menjerat Fidelis ini.

Diketahui, Fidelis Ari merupakan seorang suami yang terbukti menanam 39 batang pohon ganja, demi mengobati penyakit Yeni sang istri yang menderita penyakit langka Syringomyelia atau Siringomieli. Dari tautan laman wikipedia, Syringomyelia adalah sebuah penyakit degenerasi yang menyerang massa kelabu sumsum tulang belakang sekitar saluran tengah, yang membuat penderitanya mengalami kesakitan, kerusakan sumsum, dan menderita lemah fisik.

Dia mengaku nekat menanam ganja setelah membaca banyak hal mengenai obat bagi penyakit istrinya tersebut di dunia maya. Meski awalnya ragu, namun kondisi Yeni yang makin menurun dan terbatasnya biaya serta tidak adanya bantuan dari pemerintah, membuat Fidelis mengambil langkah frontal menanam puluhan batang pohon ganja tersebut.

Nahasnya, saat penyakit yang menyiksa Yeni itu belum lagi sembuh, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sanggau pun keburu menangkap Fidelis dengan barang bukti 39 batang ganja yang ia tanam. Meski dari hasil tes narkotika Fidelis tak terbukti mengonsumsi ganja yang ditanamnya tersebut, namun hal itu harus dibayar mahal olehnya karena Yeni sang istri keburu berpulang akibat 32 hari tak mendapat asupan obat yang biasa diracikkan oleh suaminya tersebut.

Bahkan, sampai terakhir kali menutup mata, Yeni pun tidak mengetahui sama sekali jika Fidelis suaminya tengah mendekam di penjara. Pihak keluarga pun mengaku jika penangkapan Fidelis memang dirahasiakan dari Yeni, agar sakitnya tidak semakin parah.

(Ardito.ivxx/Yohan Misero)