Oleh James P. Gray, Diterjemahkan oleh Dominggus Oktavianus

Hemp” adalah nama yang biasa digunakan bagi penggunaan tanaman ganja untuk industri (“non-drug”). Penggunaan ganja untuk produk hemp telah berlangsung ribuan tahun, setidaknya penggunaan kata “canvas” oleh Yunani Kuno adalah sama dengan “cannabis”.

Selain itu, hemp juga ditemukan sebagai bahan pembuatan tembikar yang digunakan di Cina dan Jepang lebih dari 10.000 tahun lalu, dan juga digunakan di wilayah tersebut untuk pakaian, sepatu, tali-temali dan bentuk awal kertas.

Batang tanaman ganja tidak mengandung THC, sehingga dapat dikatakan ia tidak digunakan untuk “mind-altering” (merubah pikiran?). Faktanya anda dapat “melayang tinggi” saat menghisap batang tanaman ganja sebanyak anda menghisap asap dari kertas yang anda baca sehari-hari. Sebagai tambahan, pada hari ini para ahli perkebunan dapat melakukan penyerbukan silang ke seluruh tanaman untuk memangkas kandungan THC sampai ke level nol.

Bagaimanapun, karena ia masih dianggap marijuana, sehingga untuk menanam ganja di negeri ini tetaplah illegal.
Tapi ini tak selalu benar. Selama masa kolonial, hemp digunakan untuk sejumlah besar produk. Sebagai contoh, layar-layar yang digunakan untuk kapal USS Constitution (atau “Old Ironsides”) dibuat dari hemp, dan beberapa draf dari Declaration of Independence dicetak pada kertas perkamen yang terbuat dari bahan alam yang sama. Hemp juga digunakan kembali untuk membuat tali-temali, tekstil dan karung goni, bahkan juga digunakan untuk pembuatan uang pada tahun 1631 sampai 1800-an.

Thomas Jefferson, George Washington dan sejumlah pekebun terkenal memiliki perkebunan hemp yang besar, dan Benjamin Franklin juga merupakan seorang pedagang kertas hemp yang paling aktif. Kenyataannya, hemp sangat berguna sehingga hukum-hukum awal di daerah koloni mewajibkan beberapa kotapraja untuk menanam sejumlah ganja, tergantung pada jumlah penduduknya.

Dalam majalah Popular Mechanics edisi Desember 1941 mengatakan bahwa Henry Ford menanam ganja di lahannya, dan ia membuat sejenis mobil “plastic” yang sebagian besar terbuat dari ganja, jerami gandum dan sisal. Selain itu, dipercaya bahwa Rudolph Diesel menemukan mesin yang melambungkan namanya menjadi salah satu bahan bakar, khususnya yang berbasis minyak tanaman dan biji-bijian seperti yang ditemukan pada ganja.

Saat ini hemp dapat digunakan untuk ribuan produk komersial. Serat dapat digunakan untuk pakaian seperti kaos dan kemeja, dan untuk tas punggung, sepatu, sandal, dompet, topi, seprei tempat tidur, terpal penahan panas, tempat tidur hewan, pupuk untuk tumbuhan dan produk sejenis yang nyaris tak terhitung jumlahnya. Ia dapat juga dicampur dengan sutera, linen atau kapas untuk menghasilkan kualitas garmen yang baik. Napoleon menggunakan hemp secara besar-besaran untuk seragam prajuritnya karena murah dan tahan lama, dan kekaisaran Cina sering mencampurnya dengan sutera untuk membuat bahan garmen yang halus.

Serat hemp juga mempunyai banyak manfaat untuk memproduksi barang-barang seperti tali, benang pengikat, memaket barang, produk kertas, tripleks dan karpet. BMW dan Mercedes-Benz menggunakan biocomposites yang terutama terbuat dari serat hemp untuk menghasilkan papan-papan interior untuk sejumlah produk mobilnya, dan serat juga digunakan di Eropa serta Cina untuk memperkuat campuran semen.

Biji hemp sendiri merupakan sumber makanan yang penting, karena mereka mengandung nutrisi yang tinggi dan zat asam lemak omega, zat asam amino dan mineral. Sebagai hasilnya, hemp bisa menjadi komersial dalam produk sereal, wafel beku, tahu ganja, dan kacang-kacangan. Kenyataannya, istri saya baru-baru ini membeli sejenis nutrisi hemp granola untuk saya di Trader Joe’s, dan rasanya luar biasa sedap! Hemp juga dapat digunakan sebagai susu yang tidak diminum sehari-hari seperti susu kedelai, dan juga sebagai (non-dairy) “es krim” ganja.

Minyak dari biji ganja memiliki kegunaan tambahan sebagai pelembab bibir, sabun dan krim pelembab. Tambahannya, saat minyak biji ganja kering ketika dibuka di udara, ia menjadi minyak dasar yang baik untuk melukis sama dengan minyak biji rami.
Jika anda ingin pelajari lagi, tuliskan saja kata “hemp” di mesin pencari otomatis di internet, dan anda akan terkagum-kagum pada hal positif yang anda temukan. Hanya jika kegunaan hemp yang anda temukan masih kurang meyakinkan, coba perhatikanlah fakta-fakta ini.

Tahun 1916, di Buletin USDA No. 404 mengatakan bahwa satu hektar hemp memproduksi bubur kertas sama banyaknya dengan 4,1 hektar pohon. Dan, tentu saja, dibutuhkan waktu 20 tahun untuk menumbuhkan pohon, tapi hanya perlu satu musim (120 – 180 hari) untuk menumbuhkan hemp.

Lebih jauh lagi, orang bisa memperoleh sekitar 250% serat lebih banyak per hektar ganja dibandingkan dari kapas, dan 600% dibanding dari rami. Dan karena tanaman ini cepat tumbuh, hemp juga memproduksi energi lebih banyak per hektar-nya untuk biodisel atau alkohol dibandingkan jagung, gula, rami atau jenis tanaman lain.

Jadi kenapa ganja tidak dihasilkan dan digunakan oleh para pengusaha kita untuk produk-produk tersebut? Ya, kenyataannya demikian. Tapi dengan hukum federal sekarang, ganja/hemp harus diimpor dari negeri-negeri seperti Kanada, Inggirs, Romania dan Cina. Jadi, bahkan ketika negeri-negeri Uni Eropa dapat menanam ganja di bawah ijin khusus, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara industri yang mengilegalkan penanaman ganja. Situasi ini sangat menguntungkan Kanada yang pada tahun 2007 saja mengalami pertumbuhan 300% dari produk hemp.

Kemunafikan pemerintah kita, yang mengatakan hemp harus tetap dilarang, tampak dramatis dari film 14 menit yang diproduksi oleh Departemen Perkebunan AS pada tahun 1942 yang berjudul “Hemp for Victory”. Selama Perang Dunia II, hemp digunakan secara besar-besaran untuk seragam militer, kanvas, temali dan produk lainnya. Tapi ketika pasokan hemp dan rami dari Filipina dan Indonesia dipotong oleh Jepang, pemerintah Amerika Serikat menyerukan lewat film ini kepada seluruh petani “patriotik” untuk menanam ganja.

Jadi ketika bendera nasional kita berkibar ditiup angin dan prajurit kita bersiap untuk pertempuran, dan ditemani alunan lagu seperti “Anchors Aweigh”, para petani kita diperintahkan untuk bagaimana dan di mana menanam ganja, dan bagaimana cara terbaik merawat/menumbuhkannya. Setelah itu, kita butuhkan “Ganja untuk meringankan selang pemadam kebakaran”, untuk “anyaman parasut bagi pasukan penerjun kita”, untuk memasok “34.000 tali sepatu bagi setiap kapal AS,” dan untuk “kegunaan tak terhitung di kapal dan di daratan.” “Ganja untuk menambat kapal-kapal kita!” “Ganja untuk tali rentang!” “Ganja untuk Kemenangan!”

Tapi setelah perang, ganja kembali menjadi bahan terlarang di mata pemerintah tanpa kegunaan praktis untuk apa saja.
Jadi bantulah kami keluar dari kemunafikan dan kebodohan ekonomi dengan cara meyakinkan pemerintah kita untuk mengijinkan peraturan Undang-Undang yang berbunyi seperti berikut: “Setiap tanaman ganja yang mengandung 0,3% THC atau di bawahnya adalah legal untuk ditanam, ditumbuhkan, dimiliki dan dijual di Amerika Serikat.” Tentu saja, apapun dengan kandungan THC di atas 0,3% tetap diatur melalui undang-undang dan regulasi termasuk pada ganja.

Aturan baru akan mengijinkan tanaman ini, biji-bijian dan serat tumbuh, dibesarkan dan digunakan tanpa intervensi Negara, seperti yang terjadi sekarang terhadap produk-produk lain. Dan peraturan itu sendiri akan mengembalikan keuntungan industri yang sangat besar bagi petani, industri manufaktur, pedagang dan konsumen.
________________________________________
JAMES P. GRAY is an Orange County Superior Court judge and author of the book, “Why Our Drug Laws Have Failed and What We Can Do About It — A Judicial Indictment Of The War On Drugs.”