Sebagai buah dari hasil perjuangan selama lebih dari tiga tahun, saat ini seluruh apotik di Uruguay telah diperbolehkan menjual ganja secara langsung kepada konsumen. Dampaknya, hampir lima ribu pengguna pun segera mendaftar ke pemerintah di negara kecil Amerika Selatan tersebut, agar dapat membeli paket lima gram seharga US$6,50, atau sekitar Rp90 ribu rupiah.

Uruguay menjadi negara pertama di dunia yang mengeluarkan undang-undang yang mengesahkan budidaya, penjualan, dan penggunaan ganja untuk tujuan rekreasional sejak 2013. Namun, penerapannya dinilai lamban, sehingga beberapa negara lain telah beralih ke pendekatan yang lebih fleksibel sejak saat itu.

Di Uruguay sendiri, pola regulasi menyasar warga negara yang telah berusia di atas 18 tahun, agar bisa mendaftar perijinan untuk membeli ganja dengan tujuan rekreasi. Dengan menggunakan pengenalan sidik jari, mereka dapat membeli hingga 40 gram setiap bulannya, untuk penggunaan pribadi.

Mereka pun dapat memilih di antara dua merek, ‘Alfa 1’ dan ‘Beta 1’, karena kedua varietas tersebut diketahui memiliki kandungan tetrahydrocannabinol (THC) yang aman atau wajar untuk mendapatkan efek rekreasional yang baik.

Employees of Amazon Organics, a pot dispensary in Eugene, Ore., help customers purchase recreational marijuana on Thursday, Oct. 1, 2015. Oregon marijuana shops began selling marijuana Thursday for the first time to recreational users who are at least 21 years old, marking a big day for the budding pot industry. (AP Photo/Ryan Kang)

Pola ekonomi yang diciptakan pemerintah Uruguay untuk kepentingan rekreasional ini, dilakukan dengan cara menanam, mengemas, mendistribusikan, yang izinnya dipegang oleh dua perusahaan, yakni Symbiosis dan Iccorp.

Setelah jalur produksi hingga distribusi aman sehingga bisa menciptakan pemasukan bagi negara yang optimal, aturan legal itu masih akan dilengkapi dengan pengawasan ketat dari pihak pemerintah, untuk memantau proses distribusi agar tidak dijual ke orang asing atau untuk dibawa meninggalkan negara tersebut.

Dilansir dari The Guardian, seorang warga konsumen ganja rekreasional yang ditanya saat mengantre di apotik ganja, Xavier Ferreyra, mengaku jika dia dan warga lainnya hanya berusaha mengambil kesempatan yang diberikan pemerintah untuk menikmati ganja secara legal. Bahkan, dengan jaminan pemerintah bahwa baik dari aspek medis dan hal lain terkait pertumbuhan ekonomi, PNS berusia 32 tahun itu mengaku lebih tenang jika ingin sekedar ‘high’

“Sekarang kita pada titik di mana kebebasan untuk mengkonsumsi dijamin,” ujarnya.

Bagi apoteker seperti Sebastian Scaffo, yang mengelola salah satu dari 16 apotek di Uruguay dengan kewenangan menjual ganja untuk rekreasional, ini adalah kesempatan untuk mendatangkan lebih banyak klien dan keuntungan.

“Tiap harinya, pada jam pertama setelah toko ku buka, sudah 15 paket terjual,” ujarnya.

Diketahui, undang-undang yang disponsori pemerintah tentang legalisasi ganja, pertama kali muncul saat presiden José Mujica -seorang mantan gerilyawan kiri yang banyak melakukan reformasi progresif di Uruguay- memulai langkah brilian tersebut. Presiden yang akrab disapa ‘Pepe’ itu berargumen, bahwa legalisasi ganja akan berguna untuk memisahkan pasar gelap dari obat-obatan terlarang, yang selama ini bersembunyi di balik pasokan pengiriman ganja yang belum legal.

Hal ini bahkan dinilai pemerintah pimpinan Pepe itu sebagai upaya untuk membantu menindak perdagangan obat terlarang, yang memungkinkan pemerintah untuk mengatur dan memberi pajak pada pasar yang dijalankan oleh kartel narkotika.

Sejak saat itu, negara-negara lain di Amerika Latin pun telah bergerak mengesahkan ganja untuk penggunaan medis. Sejumlah negara bagian Amerika Serikat juga telah melegalkan ganja untuk penggunaan rekreasional, diikuti dengan Kanada yang berencana untuk melegalkannya pada tahun depan.

(Ibob Atsuga)