Singapura merupakan negara yang memiliki aturan yang ketat terhadap penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan. Kepemilikan obat-obatan terlarang dalam jumlah kecil akan dinyatakan terbukti bersalah.

Kepemilikan obat-obatan terlarang dalam jumlah besar akan dihukum sebagai penjual atau bandar narkoba di bawah Undang-undang Penyalahgunaan Narkoba Singapura. Undang-undang ini bekerja secara konsisten dengan penegakan hukum di Singapura yang bersifat otoriter. Hukum bagi para pengguna dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang akan diterapkan tanpa ampun.

Sesuai Bagian 17 dari Undang-undang Penyalahgunaan Narkoba Singapura, seseorang akan dianggap sebagai penjual atau bandar narkoba apabila kedapatan memiliki ganja 10-15 gram atau lebih.

Pada Bagian 2 dari undang-undang tersebut juga menjelaskan tentang hukuman mati apabila kedapatan memiliki ganja 200-500 gram atau lebih. Pada januari 2013, Perubahan undang-undang telah memberi sedikit ruang gerak bagi tersangka yang telah divonis hukuman mati dapat diganti dengan hukuman seumur hidup, dilansir dari tripsavvy.com.

Di tempat yang lain, pihak berwenang telah mengklarifikasi posisi Singapura di dalam penggunaan produk cannabinoid. Produk tersebut akan diawasi oleh regulasi yang ketat dan hal ini juga tidak mengurangi sikap nol toleransi Singapura terhadap pengguna obat-obatan.

Dilansir dari straitstimes.com, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan bersama bahwa penting untuk membedakan antara ganja mentah (ganja tanpa pemrosesan lebih lanjut) dengan produk farmasi yang mengandung cannabinoid.

Produk cannabinoid dapat diberikan secara medis melalui produk farmasi seperti larutan oral dan semprotan. Produk tersebut sebelumnya telah ditinjau secara ilmiah oleh Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura sebelum didaftarkan maupun dipasok oleh produsen. Produsen juga perlu membuktikan keamanan, kualitas, dan kemanjuran produk cannabinoid berdasarkan bukti ilmiah maupun teruji secara klinis.

Penelitian saat ini tidak dapat memvalidasi ganja mentah dapat mengatasi berbagai kondisi medis menurut pemerintah Singapura. Sikap pemerintah yang tidak proaktif terhadap ganja mentah didasari oleh tinjauan literatur yang dilakukan oleh para ahli Institusi Kesehatan Mental (Institute of Mental Health) pada tahun 2015. Dalam tinjauan tersebut menjelaskan bahwa ganja mentah yang tidak melewati pemrosesan terlebih dahulu bersifat berbahaya dan meningkatkan potensi ketergantungan atau adiksi.

Pemerintah Singapura lebih lanjut menjelaskan bahwa Undang-undang Penyalahgunaan Narkoba adalah tegas terhadap perdagangan, kepemilikan, konsumsi, ekspor dan impor obat-obatan terlarang, termasuk ganja dan produk yang mengandung ganja.

Para Menteri menambahkan perlu pendeketan komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi permintaan dan pasokan ganja agar menjaga Singapura dari bahaya narkoba. Dengan kata lain, Pemerintah Singapura akan tetap bertindak keras bagi para pengguna obat-obatan terlarang termasuk penggunaan ganja yang bukan bagian dari produk farmasi.