Ketika undang-undang ganja medis di Amerika memulai debut di paruh kedua tahun 1990an, undang-undang tersebut bermaksud melindungi pasien kanker dari tuntutan hukum. Pasien-pasien ini menemukan obat yang dapat mengatasi efek samping kemoterapi yang keras dan menyakitkan, walaupun manfaat ganja sebagian besar hanya bersifat anekdot pada saat itu, namun sekarang kita banyak melihat ilmu tentang cannabinoids untuk dapat lebih memahami manfaat ganja dalam menekan mual dan muntah akibat kemoterapi (CINV).

Sangat kuat dan menyakitkan. Begitulah pasien kanker menggambarkan serangan ganas yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah memulai kemoterapi. Tentu pasien takut kehilangan rambut, tapi efek samping yang paling ditakuti adalah serangan mual dan muntah yang ekstrem (emesis). Ini bukan hanya mual dan mual biasa, mual dan muntah parah yang diakibatkan dari induksi kemoterapi biasanya terjadi segera, dan puncaknya 6-24 jam setelah perawatan.

Pada awalnya, obat tradisional digunakan sebagai terapi anti mual (anti-emetik) untuk mencegah atau meminimalkan CINV. Deksametason, kortikosteroid yang biasanya diresepkan untuk inflamasi, paling sering diberikan kepada pasien. Tapi apa jadinya jika obat ini tidak dapat meringankan gejala mual dan muntah? Banyak pasien kemoterapi bahkan tidak merasakan efek dari obat tradisional dan melaporkan bahwa obat tersebut justru membuat mereka merasa terbius, lesu, dan bahkan mudah tersinggung.

Cannabinoid telah menunjukkan keberhasilan dalam mengobati gejala CINV. Dua obat-obatan, nabilone dan dronabinol adalah variasi dari delta-9-tetrahydrocannibinol (Δ9-THC), yang secara alami terdapat pada tanaman ganja. Dronabinol dipasarkan sebagai obat dengan paten Marinol dari Pharmacaps yang berbasis di Amerika Serikat, dan nabilone dijual sebagai Cesamet oleh perusahaan farmasi raksasa Kanada, Valeant Pharmaceuticals International. Keduanya tersedia dalam larutan oral dan inhalasi, dan keduanya telah disetujui untuk pengobatan CINV.

Pada tahun 1985, dronabinol dan nabilone disetujui oleh FDA untuk pengobatan CINV. Sejak itu, hampir 30 uji klinis telah dilakukan dan menunjukkan bahwa cannabinoid lebih unggul daripada obat tradisional untuk perawatan CINV.

Secara khusus, beberapa uji klinis (1975-1996) melibatkan 1.366 pasien. Enam belas percobaan mempelajari nabilone, dan tiga belas percobaan mempelajari dronabinol. Cannabinoid mengurangi CINV lebih efektif daripada plasebo dalam semua percobaan. Dosis normal dronabinol adalah 5mg yang dikonsumsi 3 sampai 4 kali sehari; Untuk nabilone, dosis 1-2mg diminum dua kali sehari. Keduanya biasanya diberikan sekitar 1 sampai 3 jam sebelum dimulainya kemoterapi.

Anehnya, banyak dokter masih menganggap cannabinoid sebagai pengobatan kontroversial meski telah disetujui oleh FDA lebih dari 20 tahun yang lalu. Nabilone dan dronabinol masih belum dipelajari dengan baik dalam uji klinis mereka.

Nabilone dan dronabinol bekerja dengan cara menghalangi pengikatan serotonin dan dopamin. Kompleks dorsal vagal (DVC) di batang otak adalah pengatur emesis (mual/muntah) secara keseluruhan, dan bertanggung jawab untuk komunikasi antara sinyal dalam darah (seperti kemoterapi) dan sel saraf yang memulai emesis. DVC dan saluran gastrointestinal memiliki reseptor endocannabinoid, dan semuanya menunjukkan respons anti-emetik saat reseptor tersebut diaktifkan oleh Δ9-THC, senyawa psikoaktif dalam ganja.

Ganja juga dapat digunakan untuk banyak jenis mual, tidak hanya CINV. Hasil terapeutik, tentu saja, bergantung pada konsentrasi THC yang terkandung di dalamnya. Formulasi lain yang melibatkan THC dan cannabidiol (CBD) dengan rasio yang berbeda dapat mencapai efek farmakologis tertentu karena CBD bersifat non-psikoaktif.

Dalam sebuah penelitian pada tahun 2012 yang diterbitkan dalam British Journal of Pharmacology, CBD terbukti efektif mengatasi beberapa jenis mual termasuk mual dan muntah akibat rangsangan dari luar tubuh, namun sejauh ini belum efektif pada mual dan muntah yang disebabkan karena mabuk perjalanan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam ganja mengaktifkan neurotransmiter pada otak yang mengurangi sensasi mual. Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi kombinasi, dosis, dan interaksi obat yang tepat yang digunakan untuk CINV dan juga jenis mual lainnya.

Sayangnya, ganja belum menjadi bagian dari standar global dan pedoman praktik klinis untuk Onkologi, karena ganja medis masih ilegal di beberapa negara, Pasien yang ingin mendapatkan perawatan pasca kemoterapi hanya dapat merasakannya di negara yang telah menyetujui penggunaan ganja medis. (Ibob Atsuga)

Sumber: www.leafly.com