Dibalik citra jahat dan status hukum ganja yang kontroversial, tanaman yang mengandung lebih dari 400 senyawa ini masih menyisakan banyak misteri. Potensi dan penggunaannya dalam dunia medis kini mulai banyak diterima dan diteliti dengan profesional.

Baru-baru ini, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan New England Journal of Medicine (24/05/17) menyebutkan bahwa minyak dari ekstrak tanaman ganja terbukti mengurangi kejang pada penyakit epilepsi. Cannabidiol (CBD), salah satu senyawa dalam ganja, mampu memotong angka rata-rata kejang bulanan dari 12,4 menjadi 5,9 pada 52 anak dengan sindrom Dravet yang mengkonsumsi ekstrak tersebut selama 14 minggu masa penelitian. Sindrom Dravet adalah salah satu bentuk epilepsi berat yang menyebabkan penderitanya kejang terus-menerus, sehingga memicu masalah kognitif hingga resiko kematian dini.

“Ganja medis telah didokumentasikan sebagai pengobatan untuk epilepsi sejak 3.800 tahun yang lalu,” kata Orrin Devinsky, Direktur Pusat Epilepsi Komprehensif di NYU Langone Medical Center, yang memimpin penelitian tersebut. “Namun, penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan nilai produk ganja medis pada penderita epilepsi secara ilmiah,” lanjutnya.

Berbeda dengan THC, senyawa ganja yang menghasilan efek “tinggi” saat dikonsumsi, CBD tidak memilik sifat psikoaktif. Devinsky mengatakan bahwa CBD mengikat reseptor pada otak yang dapat meredam rangsangan sel saraf yang menyebabkan kejang. Selain itu, Cannabidiol tidak adiktif dan tidak menyebabkan mabuk. Beliau berharap suatu hari nanti terbongkar betapa berharganya ganja sebagai pengobatan untuk berbagai jenis epilepsi.

Belum ada pengobatan yang disetujui Food and Drug Administration (FDA) untuk sindrom Dravet, obat-obatan lain terbukti tidak efektif membantu penderita sindrom tersebut. GW Pharmaceuticals, yang mendanai penelitian Devinsky, berencana untuk mengajukan obat berbasis tanaman ganja tersebut untuk mendapatkan persetujuan dari FDA pada pertengahan tahun ini dengan harapan dapat diresepkan oleh para dokter pada awal tahun 2018 untuk para penderita sindrom Dravet dan epilepsi berat lainnya.

“Yang terpenting bagi kami adalah penderita layak mendapatkan solusi farmasi. Mereka berhak mendapatkan akses terhadap ekstrak ganja yang kami sebut GW Epidiolex ini, “kata Pimpinan GW Pharmaceuticals, Justin Glover. Dia juga menambahkan, “Kami melakukan penelitian dasar selama 18 tahun sebelum memulai pengembangannya tiga tahun yang lalu.”

Dalam sebuah editorial yang menyertai penelitian tersebut, New England Journal of Medicine memuji penelitian tersebut karena akhirnya dapat membawa kepastian akademis dalam debat panjang tentang obat berbasis tanaman ganja. “Penelitian ini merupakan awal dari bukti kuat manfaat penggunaan cannabinoids pada epilepsi. Ini membutuhkan replikasi”, catat jurnal tersebut. (Ibob Atsuga)

Sumber : Washington Post