Besok, hari rabu 2 Agustus 2017 di Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, Fidelis akan mendengarkan putusan hakim. Tepat 1 minggu sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut pria yang menanam 39 pohon ganja untuk mengobati istrinya itu dengan tuntutan selama 5 bulan dan denda 800 juta rupiah subsider 1 bulan penjara. Tuntutan tersebut diluar dugaan banyak pihak mengingat UU Narkotika No 35 Tahun 2009 pasal 111 ayat 2 yang menyatakan bahwa menanam pohon ganja di atas 5 batang dikenakan hukuman pidana minimal 5 tahun dan maksimal seumur hidup.

Lingkar Ganja Nusantara (LGN) merasa lega mendengar tuntutan tersebut.”Inilah bukti nyata kekuatan cinta. Karena cinta seorang Fidelis terhadap almarhum istrinya, Yeni, hukum positif dapat diluluhkan. Walaupun vonis belum dibacakan, kami lega mendengar secercah harapan,” ungkap Dhira Narayana, Ketua LGN.

LGN berharap Fidelis mendapat keputusan yang adil dari hakim. “Kami berdoa agar Fidelis dibebaskan dari segala tuntutan hukum dan segera dikembalikan ke keluarganya. Apabila beliau masih mau menjadi PNS, dikembalikan haknya.” Tambah Dhira.

LGN juga berharap ada langkah nyata dari pemerintah untuk mengakomodir warga negaranya yang ingin menggunakan ganja sebagai terapi kesehatan, seperti yang dilakukan Fidelis terhadap almarhumah istrinya. “Oleh karena itu, pemerintah harus memprioritaskan revisi UU Narkotika terutama yang mengatur ganja untuk pengobatan. Langkah sederhana yang paling mudah dan murah untuk dilakukan pemerintah pusat adalah menjalankan MoU riset ganja antara Yayasan Sativa Nusantara dengan Kemenkes RI.”

“Terakhir, pintu LGN terbuka apabila Fidelis ingin ambil andil dalam perjuangan anak bangsa yang bercita-cita mengelola pohon ganja sesuai ajaran Pancasila. Kami tidak ingin pohon ganja selamanya dikuasai pasar gelap narkotika. Kami ingin pohon ganja dapat mengobati. Semoga Fidelis mau bergabung dengan tim kami,” tutup Dhira Narayana.