Pada awal November ini, partai Meksiko berhaluan kiri, MORENA, mengajukan rancangan undang-undang legalisasi ganja. Peraturan tersebut akan menghapus status tanaman ganja sebagai narkotika dan akan mendekriminalisir penggunaan rekreasional di tempat umum. Diperkirakan “perubahan besar” di negara tersebut akan mulai digalakkan setelah presiden terpilih, Andrés Manuel López Obrador, mulai menjabat pada bulan Desember 2018.

Meksiko diprediksi akan segera mengikuti tetangganya, Amerika Serikat, beserta Uruguay, Kanada, Australia, Jerman, dan Israel, yang membuka ruang bagi masyarakatnya untuk menikmati manfaat tanaman ganja secara publik. Keterbukaan ini dinilai Olga Sánchez Cordero, senat baru yang pernah menjadi hakim Mahkamah Agung Meksiko, akan memberikan dampak positif yang besar bagi kehidupan di negara berpenduduk lebih dari 130 juta jiwa tersebut.

Industri legal ganja ditaksir akan mencapai nilai 150 milyar dolar di seluruh dunia pada tahun 2025. Pemerintahan baru Meksiko diyakini akan menyikapi peluang ini dengan gesit setelah beberapa ahli dan pengamat menilai tetangga sekaligus rival terdekatnya, Amerika Serikat, masih berkutat dengan peraturan pemerintahan federal yang masih menggolongkan ganja dalam kategori yang sama dengan heroin dan methampethamin.

Terdapat sembilan perusahaan pembudidayaan ganja asal Kanada yang bernilai lebih dari satu milyar dolar, tiga di antaranya bahkan mencapai 13-14 milyar dolar. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat yang memiliki pasar lebih besar. Pemerintahan baru Obrador akan memanfaatkan potensi pasar domestik dalam misi mendongkrak ekonomi dan kesejahteraan negara mereka. Kabinet baru yang segera akan melantik Cordero menjadi menteri dalam negeri,  akan mulai bekerja sebelum akhir tahun ini.

sumber: Reuters, Forbes, National Public Radio