Ganja telah dibudidayakan dan digunakan selama berabad-abad di Maroko. Hal ini ditandai dengan penaklukan Arab di Utara Afrika pada abad ke-7 dan ke-15. Pada abad ke-18, Rif wilayah yang terisolasi pegunungan di Maroko Utara telah menjadi tempat utama dalam pembudidayaan ganja. Wilayah ini hingga sekarang masih menjadi tempat utama dalam pembudidayaan ganja.

Maroko sendiri telah memiliki regulasi terhadap pelarangan penanaman dan penggunaan ganja sejak tahun 1956 setelah merdeka dari pemerintahan Perancis dan Spanyol. Pada tahun 1960, pemerintah Maroko memprakarsai sebuah program yang dibantu oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) untuk mendistribusikan benih dan pupuk kepada petani ganja dalam rangka mensubstitusi tanaman ganja dengan tanaman lain yang laku di pasaran.

Uniknya, program pengembangan alternatif ini gagal dalam mengurangi budidaya ganja di wilayah Rif. Seperti yang telah dilaporkan, bantuan tersebut menjadi kontraproduktif seperti teknik irigasi yang telah ditingkatkan untuk tanaman alterntif justru dialihkan ke pengembangan budidaya ganja.

Penggunaan ganja dengan cara dihisap atau yang bersifat rekreatif sampai kini masih ilegal. Meskipun ilegal, menghisap ganja adalah hal biasa bagi para pria di Maroko. Hal ini dikarenakan menghisap ganja merupakan bagian dari sejarah dan budaya di maroko.

Secara tradisional, bunga dari tanaman ganja dipotong dan dicampur dengan tembakau yang telah dicincang sebagai campurannya dan biasa disebut dengan kif dalam bahasa maroko yang berarti kebahagiaan tertinggi atau bunga ganja. Kif dihisap dalam pipa dengan mangkuk tembaga yang disebut dengan sebsi. Penggunaan ganja di Maroko juga dapat ditemukan dalam bentuk lain seperti maajoon (permen) maupun dalam bentuk teh. Kebanyakan ganja di Maroko juga diolah menjadi resin.

Budidaya ganja yang terus berkembang pesat membuat produksi kif bermutasi menjadi penjualan ganja secara utuh. Berevolusinya pasar ganja dari konsumsi domestik menjadi bisnis ekpsor internasional telah membuat penduduk wilayah Rif menemukan cara untuk melarikan diri dari jalur kemiskinan.

Pemerintah Maroko terus melarang penjualan dan penggunaan ganja. Hukuman untuk menghisap ganja di Maroko sendiri adalah 10 tahun di dalam hotel prodeo. Namun, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Maroko telah bersifat terbuka dalam membahas regulasi ganja untuk keperluan medis maupun industri.

Sejak tahun 2013, Parlemen Maroko telah mempertimbangkan ganja untuk tujuan medis dan industri. Hal ini bertujuan untuk menekan dampak negatif dalam pengunaan obat-obatan maupun mengurangi angka kriminalitas.

Perdana Menteri Maroko Abdelilah Benkirane (2011-2017) dari Partai Keadilan dan Pembangunan Islam telah mempertimbangkan dekriminalisasi industri ganja. Pada bulan Desember 2018, Parlemen Maroko mengadakan sidang untuk meninjau kembali legalitas ganja dalam meningkatkan perekonomian negara. Argumen yang dibawa dalam persidangan tersebut adalah sekitar satu juta penduduk Maroko bergantung pada budidaya ganja.

“Kami tidak berusaha melegalkan produksi obat-obatan, melainkan mencari kemungkinan lain terhadap penggunaan ganja dalam kepentingan medis dan industri dan membuat alternatif di wilayah tersebut,” kata Milouda Hazib anggota parlemen Maroko dari Partai Keaslian dan Modernitas (Party of Authenticity and Modernity/PAM).

Manfaat dari diregulasinya ganja di Maroko adalah meningkatkan pendapatan pemerintah. Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa ganja adalah sumber devisa negara terbesar Maroko dan pemerintah belum mampu menindaklanjuti bisnis tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Petani ganja di daerah Ketama, Maroko.

Sumber:

Blickman, Tom. (2017, Maret). Morocco and Cannabis: Reduction, contaiment or acceptance. Transnational Institute, Drug Policy Briefing, 49.

Prohibiton Partners. (2019, Maret). The African Cannabis Report.