Ganja telah disebutkan di dalam tubuh teks kuno yang disebut kitab Veda dan telah digunakan oleh masyarakat India sejak 2000 SM. Seperti dikatakan oleh para sarjana agama, ganja digambarkan sebagai salah satu dari lima tanaman suci serta merupakan sumber kebahagiaan yang diberikan kepada manusia untuk membantu mengatasi ketakutan dan kecemasan.*

Terlepas dari prevalensi dan penggunaanya, ganja adalah ilegal di India. Akan tetapi, ganja mendapat toleransi di beberapa tempat yang sengaja dibuat pemerintah untuk memproduksi bhang. Bhang sendiri merupakan minuman dan makanan populer yang diproduksi dengan menggunakan ganja varietas Cannabis indica.

Bhang umumnya dikonsumsi pada saat perayaan festival seperti Holi dan Maha Shivaratri dan digunakan dalam dua cara. Thandai merupakan bhang yang dikonsumsi dengan cara diminum yang dicampur dengan berbagai bahan lainnya. Pakora merupakan cara lain penyajian bhang yang dikonsumsi sebagai camilan. Perayaan Holi juga merupakan penyumbang terbesar dengan total 30% konsumsi ganja di India.

Ganja di India diatur berdasarkan Undang-Undang Obatan Narkotika dan Zat Psikotropika 1985. Dalam undang-undang ini, ganja didefinisikan menjadi dua bentuk yaitu charas dan tanaman ganja. Charas adalah getah ganja dalam bentuk mentah atau murni yang dipisahkan dari tanaman ganja dan dibentuk menjadi minyak ganja atau ganja cair. Sedangkan ganja berarti pucuk bunga (tidak termasuk biji dan daun) murni maupun campuran yang disediakan dalam bentuk apapun.

Konsumsi ganja sendiri akan dikenakan hukuman enam bulan penjara atau denda sebesar 10.000 Rupee India atau kurang lebih sebesar Rp 2.000.000. Produksi dan budidaya ganja secara ilegal akan dikenakan hukuman 10 tahun penjara dan sebelas pasal berlapis, dilansir dari qz.com.

Pada dasarnya, undang-undang tersebut melarang produksi dan penjualan getah maupun bunga ganja. Akan tetapi, undang-undang ini mengizinkan penggunaan daun dan biji ganja. Mudahnya, produksi charas dan ganja adalah ilegal. Sedangkan, produksi bhang yang berbahan dasar biji dan daun ganja adalah legal.

Budidaya hemp yang meliputi serat, minyak, dan biji dari ganja adalah legal dengan syarat mendapatkan lisensi dari pemerintah India. Pengolahan hemp sendiri masih terbatas hanya dalam keperluan industri tekstil. Pemerintah India belum mengesahkan penggunaan hemp dalam keperluan medis maupun makanan olahan.

Melihat posisi pemerintah dalam menetapkan kebijakan terhadap ganja terkesan membingungkan. Dengan kata lain, kondisi legalitas ganja di India seakan menjadi samar-samar. Di sisi lain, tingkat konsumsi penggunaan ganja di India terbilang tinggi. Hal ini dibuktikan oleh Ibu Kota India yakni New Delhi yang menjadi konsumen ganja terbesar ketiga di dunia diikuti kota Mumbai diposisi ke enam, dilansir dari news18.com.

 

 

*Prohibiton Partners. (2019, Maret). The Asian Cannabis Report.

Foto:  Penjual Bhang di India