Tahun 2016 di Amerika Serikat, Industri ganja medis bernilai $ 35,8 juta (500 miliar rupiah), menurut sebuah laporan yang dirilis oleh See Change Strategy, sebuah firma analisis keuangan independen. Minat para pengusaha dan investor begitu besar karena tingginya angka penjualan produk berbahan dasar ganja. Perusahaan tersebut juga memprediksi bahwa penjualan produk ganja akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun kedepan, saat lebih banyak produk dari turunan tanaman ganja memiliki payung hukum.

“Ada ribuan bisnis di seluruh dunia yang mengolah dan menjual ganja kepada pelanggan, baik secara legal maupun ilegal,” kata Ted Rose, editor laporan tersebut. Laporan See Change Strategy mengubah dinamika komunitas investasi. Para pemilik bisnis ganja mengatakan bahwa rintangan terbesar untuk sukses bukanlah pembiayaan, melainkan ketidakpastian peraturan. Namun para investor mengerti ketidakpastian, mereka mengerti resiko dan membutuhkan laporan angka yang nyata.

Laporan ini merupakan kemenangan besar bagi investor. Menurutnya, saat ini ada jutaan peluang bisnis yang dapat dikembangkan; dari pembibitan, perkebunan, pengujian laboratorium hingga perusahaan farmasi. Bahkan dewasa ini banyak perusahaan pengembang perangkat lunak ikut serta dalam bisnis ini. “Kita sedang menyaksikan awal dari sebuah ekosistem bisnis ganja yang sedang berkembang dengan pesat,” kata Rose.

Usaha budidaya tanaman ganja tak bisa dianggap sebelah mata, sekalipun jenis bisnis ini hanya terfokus pada pembibitan dan penanaman ganja lalu kemudian menjualnya ke apotek ataupun produsen produk untuk kemudian diolah dan dijual kepada konsumen. Dari semua bisnis yang ada dalam industri ganja, jenis usaha inilah yang biasanya paling sulit dibuka, paling banyak diatur, paling kompetitif, namun memiliki potensi keuntungan yang paling menggiurkan.

Apotek dan Klinik Pengobatan Ganja adalah pusat ritel yang menjual ganja medis mentah, produk jadi seperti edible (dapat dimakan), minyak ekstrak ganja hingga klinik praktek dokter atau terapis yang menggunakan tanaman ganja sebagai media pengobatannya. Jenis ini menjadi yang tersulit kedua dalam bisnis ganja medis karena faktor dan kendala yang hampir sama seperti yang dihadapi bisnis budidaya tanaman ganja dengan nilai investasi yang sangat tinggi.

Bisnis ganja mampu menciptakan ribuan jenis produk jadi, tergantung bagian ganja yang diolah. Tak ada bagian yang terbuang percuma dari tanaman ganja. Dalam bisnis ganja medis, daun, bunga, dan biji adalah bagian dari tanaman ganja yang paling banyak digunakan.
Daun dan bunganya dapat diolah menjadi ekstrak atau edible. Produk ini berupa larutan cannabinoids dan bahan aktif lainnya dari tanaman ganja. Untuk mengolah produk jenis ini dibutuhkan fasilitas pengujian yang baik. Karena cannabinoids tidak larut dalam air, untuk mengekstraknya, cannabinoids harus dilarutkan dalam pelarut berbahan kimia seperti butan, heksana, isopropil alkohol, atau etanol. Bila daun dan bunga ganja terendam dalam pelarut ini, maka cannabinoid, dan bahan aktif lainnya ikut larut ke dalam pelarut cair.

Keakuratan ilmiah diperlukan untuk menghapus semua pelarut dari konsentrat ganja dengan benar. Residu apapun yang tertinggal dapat berbahaya bagi pasien. Oleh karena itu, banyak bermunculan laboratorium swasta yang menawarkan pengujian pada apotek dan produsen yang peduli dengan tingkat keamanan konsentrat ganja mereka. Karena hasil dari proses pembuatan konsentrat ganja, potensi konsentrat dan keamanan konsentrat semuanya ditentukan oleh kualitas metode ekstraksi.

Bisnis ganja medis sendiri telah menghasilkan pendapatan miliaran dolar bagi negara Amerika Serikat sejak tanggal 9 Maret 2016, dimana pajak dan administrasi perijinan usaha ganja mulai memiliki format undang-undang baru di Colorado. Format inilah yang kemudian banyak menjadi acuan aturan pajak dan administrasi negara bagian lain di Amerika Serikat. Pendapatan dari bisnis ganja medis yang ada saat ini hanyalah puncak dari sebuah gunung es, hal ini menjadi panggilan bagi puluhan negara bagian di Amerika Serikat lainnya dengan undang-undang yang masih memaksa penjualan ganja justru masuk ke pasar gelap dan mengabaikan miliaran dolar untuk pendapatan pajak.

Secara keseluruhan, penjualan ganja di Amerika Serikat tumbuh 30% di tahun 2016, menurut data dari Arcview Market Research. Menurut perkiraan mereka, angka ini akan terus tumbuh hingga mencapai $ 20,2 miliar (300 triliun rupiah) pada tahun 2021. Angka yang sangat fantastis dan menggiurkan bagi para calon pengusaha serta investor di bisnis ganja medis, mengingat satu dekade yang lalu bisnis ini tidak memiliki nilai sama sekali. (Ibob Atsuga)

Sumber :
colorado.gov
marketwatch.com
greenzipp.com