Ganja dikenal secara efektif mengobati berbagai macam penyakit, dari kanker hingga epilepsi, bahkan sampai penyakit multiple sclerosis. Ganja beserta koleksi zat-zat cannabinoids dan terpen sebagai bahan kimia aktif dan terapeutik yang ditemukan di tanaman tersebut, nyatanya bekerja pada tingkat yang lebih tinggi daripada kebutuhan satu penyakit atau kondisi.

Karena efek zat-zat yang secara bersamaan itu, keseluruhan tanaman ganja mampu beradaptasi dengan kebutuhan khusus dari sistem endocannabinoid individu, yang kerap melakukan keajaiban sederhana dengan tidak langsung memerangi penyakit. Melainkan, dengan cara peningkatan sistem kekebalan alami tubuh, untuk melakukan pertahanan terhadap penyakit-penyakit tersebut.

Penyakit Crohn (juga dikenal sebagai penyakit radang usus), adalah salah satu kondisi yang paling sering dijadikan contoh oleh para komunitas ganja medis. Penyakit ini sendiri hingga hari ini tercatat menimpa saluran pencernaan lebih dari setengah juta orang di Amerika Utara, yang menjadi penyebab dari sakit perut, diare, muntah, tinja berdarah, dan penurunan berat badan secara ekstrim. Hal ini juga dapat berdampak secara serius pada kulit, mata dan bisa menyebabkan arthritis (pembengkakan dan kekakuan pada sendi).

Kondisi radang usus (crohn)

Kondisi radang usus (crohn)

Para penderita Crohn yang tergabung dalam sejumlah komunitas ganja medis di Amerika Utara mengungkapkan, ganja tidak hanya efektif mengobati efek samping dari obat farmasi, namun juga terbukti ampuh menghentikan banyak gejala serta kerap menyembuhkan penyakit tersebut secara optimal.

Bahkan, sebuah studi yang dilakukan The Meir Medical Center (Israel) pada 2013 menunjukkan, sebagian besar penderita Crohn mengalami penurunan level penyakit yang signifikan, atau bahkan penyembuhan secara penuh setelah delapan minggu merokok ganja sebanyak 2 linting per-harinya. Bayangkan jika pengobatan dengan ganja ini dilakukan dengan cara medis yang lebih optimal, sehingga proses penyembuhannya kemungkinan juga bisa lebih cepat.

Melalui studi yang dilakukan The Meir Medical Center ini, para peneliti di Amerika Serikat pun segera melakukan uji coba kepada sejumlah penderita penyakit Crohn kronis, yang sudah kebal akan pengobatan konvensional. Seluruh peserta tes diberikan sampel ampuh ganja dengan 23 persen THC dan 0,5 persen CBD, dengan sedikit pemberian plasebo kepada masing-masing pasien tersebut.

Hasilnya, sebagian besar pasien Crohn kronis itu mengalami penyembuhan secara utuh, sementara subyek lainnya mengalami penurunan 50 persen dari gejala penyakit tersebut. Bahkan, hasil studi menjelaskan secara gamblang bagaimana para subyek penelitian yang merupakan penderita radang usus itu mengalami peningkatan nafsu makan, kualitas tidur yang baik, dan tanpa efek samping yang signifikan.

Dengan hasil riset yang berhasil menyembuhkan sebagian besar subyek penelitian (penderita Crohn kronis) dan mengurangi setengah dari gejala penyakit tersebut kepada 50 persen pasien lainnya, hal ini menunjukkan bahwa ganja mampu menjadi obat bagi penyembuhan Crohn yang sangat efektif, terutama untuk pasien yang tidak merespon pengobatan konvensional.

Namun, sebelum level ganja diturunkan menjadi ‘Narkotika kelas II’ oleh pemerintah federal Amerika Serikat (atau level narkotik yang lebih rendah dari ketetapan Controlled Substances Act), satu setengah juta pasien Crohn di AS yang telah lebih dulu mengobati penyakitnya dengan ganja sudah terlanjur dikriminalisasi dan dikenai tuntutan oleh pemerintah federal.

Hal ini merupakan keberhasilan bagi kaum penentang (prohibitionist), yang mati-matian berjuang untuk mempertahankan klasifikasi yang sangat ketat terhadap ganja sebagai narkotika kelas I.

Akhirnya, berdasarkan studi dari Meir Medical Center tersebut, penelitian di Amerika Serikat hari ini juga membuka kemungkinan bagi segala pengungkapan kemanjuran yang tinggi dari ganja, untuk penyakit-penyakit kronis seperti Crohn, dan berbagai penyakit lainnya. Hal ini bahkan telah berhasil menarik perhatian masyarakat dan dunia medis di sana, untuk mempromosikan ganja medis sebagai reaksi politik terhadap larangan yang gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok prohibitionist.

Hingga hari ini, 23 negara bagian di Amerika bahkan telah menawarkan beberapa bentuk pengobatan melalui ganja medis, yang memungkinkan para pasien untuk menghindari pembelian ganja melalui pasar gelap, serta untuk mendapatkan akses yang aman untuk obat bagi penyakit mereka secara teratur.

Sementara para prohibitionist hingga hari ini masih gencar mengatakan bahwa penggunaan ganja adalah ‘sebuah kebodohan’ karena dapat menyebabkan kerusakan otak, maka para penderita Crohn justru akan mengatakan bahwa satu-satunya keputusan yang bodoh, adalah jika tidak menggunakan ganja untuk melawan penyakit mereka dan berbagai penyakit lainnya yang mematikan.