Salah satu perang persepsi dan propaganda yang terjadi antara Negara -dalam hal ini diwakili Badan Narkotika Nasional/BNN- dengan gerakan pro legalisasi seperti Lingkar Ganja Nusantara (LGN), adalah mengenai persepsi tak berdasar dari BNN yang kerap menuding jika ganja adalah ‘pintu masuk’ ke narkoba jenis lainnya.

Padahal, sejumlah riset dan analisa yang didapat dari ribuan pecandu yang menjalani rehabilitasi ketergantungan narkotika menjelaskan, penggunaan ganja sebenarnya justru telah membantu mereka melawan kecanduan pada narkotika jenis lain yang mereka coba sembuhkan tersebut.

Dilansir dari Massroots, Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American Medicine (JAMA) menunjukkan bahwa; “Di negara-negara yang memiliki undang-undang ganja medis, tingkat kematian over-dosis opioid 24,8 persen lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara yang tidak memiliki undang-undang mengenai ganja medis,”

Bahkan, dalam sebuah studi terpisah menunjukkan adanya grafik penurunan yang tajam dari para pasien pengguna obat-obat opioid, setelah undang-undang mengesahkan konsepsi ganja medis. Hal itu belum termasuk berkurangnya jumlah pasien pengguna obat-obat antidepresan (semacam alprazolam, diazepam, dlsb), untuk kemudian mengganti resep obatnya dengan ganja medis demi menyembuhkan depresi, kegelisahan berlebih, dan gangguan tidur yang mereka alami.

Sementara propaganda yang dilakukan BNN terus mencoba meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa “..setelah seseorang mengkonsumsi ganja maka dia akan langsung ingin mencicipi narkotika lainnya,” sebuah riset yang dirilis Universitas Montreal yang bekerjasama dengan University of British Columbia justru menjabarkan fakta sebaliknya.

Dalam risetnya, mereka mengaku menyaksikan sendiri fakta dimana sejumlah koresponden pengguna kokain aktif, terbukti bisa membatasi penggunaan ‘the crack’ yang dicandunya saat mereka mendapatkan akses terhadap ganja.

“Mengingat beban morbiditas dan kematian secara substansial global yang disebabkan oleh gangguan penggunaan kokain bersamaan dengan kurangnya farmakoterapi yang efektif, kami menggemakan seruan untuk penelitian eksperimental yang ketat pada cannabinoids sebagai pengobatan potensial untuk gangguan penggunaan kokain,” tulis laporan tersebut.

Mereka juga menyebut, jika ganja dapat membantu memulihkan pecandu heroin agar tetap berada di jalurnya dan menyelesaikan pengobatan kecanduan mereka, dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan ganja.

Penelitian juga menunjukkan bahwa ganja dapat mengurangi ketergantungan pada zat legal. Data dari uji klinis menunjukkan bahwa CBD telah membantu para perokok untuk merokok 40 persen lebih sedikit jika dibandingkan dengan pasien perokok yang diberi plasebo. Dalam studi baru-baru ini, 40 persen pasien ganja medis melaporkan bahwa ganja mengurangi konsumsi alkohol mereka.

Penelitian ini mengakui bahwa dibutuhkan lebih banyak pengamatan, mengenai efek ganja yang sebenarnya dapat membantu para pasien yang kecanduan alkohol. “Ganja tampaknya merupakan pengganti alkohol,” tulis laporan tersebut.

Beberapa data survei juga menunjukkan jika kurang dari sepertiga orang Amerika yang sebelumnya menganggap ganja sebagai ‘pintu masuk’ ke narkotika lainnya, turun menjadi kurang dari seperempatnya saat survey mengamati koresponden dalam rentang usia remaja hingga 65 tahun.

Namun, sedemikian banyak fakta medis dan akademis yang membuktikan bahwa ganja tidak menimbulkan resiko overdosis fatal dan memiliki ambang penyalahgunaan yang lebih rendah dibandingkan dengan obat-obatan legal lainnya, merupakan hal yang sepertinya amat sulit dipahami oleh BNN serta para pihak penentang legalisasi ganja lainnya.

Lalu, alih-alih menganggap ganja sebagai ‘gerbang masuk’ ke narkotika jenis lainnya, bukankah ganja ternyata bisa menjadi ‘jalan buntu’ agar siapapun bisa menyembuhi kecanduan dan resiko kematian yang ditawarkan oleh narkotika sebenarnya. seperti misalnya putaw, sabu-sabu, ekstasi, dan jenis metamfetamin serta kimiawi lainnya.