Autisme dipercaya diderita 1 dari 68 anak dengan tingkat kondisi yang berbeda-beda. Hanya sedikit obat yang saat ini disetujui untuk pengobatan autisme, diantaranya adalah Risperidone dan Aripiprazole. Keduanya merupakan obat anti-psikotik yang pada dasarnya hanyalah obat penenang. Para orang tua menghadapi risiko besar dengan memberi anak-anak mereka produk farmasi seperti obat anti-psikotik, walaupun produk tersebut tampaknya berhasil.

Perawatan dengan obat penenang seperti ini juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi serta menyebabkan efek samping berbahaya yang sebenarnya dapat membuat beberapa gejala autisme menjadi lebih buruk. Bahkan pada beberapa kasus obat-obatan tersebut mengacu sebagai penyebab naiknya berat badan, diabetes hingga penyakit jantung. Obat anti-psikotik juga dapat menyebabkan kelesuan dan sedasi yang ekstrem.

Tahun 2016 merupakan tahun yang penting dalam sejarah penelitian ganja medis. Pada bulan September, Israel menjadi negara pertama di dunia yang diberi izin merawat anak-anak penderita autisme pada sebuah percobaan klinis dengan ganja dalam program pemantauan dokter yang disetujui secara resmi. Noa Shulman adalah satu dari 120 anak-anak dan remaja yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Yang termuda berusia lima tahun dan yang tertua adalah 29. Bentuk autisme berkisar dari ringan hingga berat.

Selama penelitian ini, Noa mendapat dosis obat hariannya dalam bentuk minyak ekstrak ganja yang dicampur dengan makanannya. Ekstrak ganja yang diberikan kepada Noa kaya akan cannabidiol (CBD), senyawa unik yang hanya terdapat pada tanaman ganja dan tidak memberikan efek psikoaktif. Pasien pada penelitian ini diberi ganja dan plasebo diberikan pada pasien lainnya. Gejala autisme pada pasien, seperti agresi dan kemarahan ternyata sangat berkurang dengan penggunaan ganja dibandingkan plasebo. Selama penelitian berlangsung Noa sering terlihat lebih tenang dan tidak mudah marah.

“Saat putriku memakai obat anti-psikotik, dia seperti zombie. Dia hanya akan duduk di sana dengan mulut terbuka lebar, tidak bergerak.” Ujar Yael, ibu Noa.

“Saya benar-benar sampai pada titik di mana saya tidak lagi memiliki kekuatan – secara fisik maupun emosional,” lanjutnya. Saat ini, menjadi bagian dari penelitian yang mampu memberi harapan baru untuk Yael terkait kondisi anaknya, Noa.

Penelitian terhadap autisme ini adalah satu dari lebih 110 penelitian yang dilakukan di Israel, yang telah mengembangkan reputasi sebagai negara yang mempelopori penelitian ganja medis. Psikoaktif utama dalam ganja, THC, pertama kali diisolasi oleh ilmuwan Israel pada akhir 1960an.

Penelitian klinis ini diharapkan akan menambahkan beberapa bukti ilmiah berkualitas yang dapat memberikan klaim bahwa ganja adalah sebuah gebrakan dalam dunia pengobatan untuk autisme. Namun nampaknya para orang tua dan pasien autisme di seluruh dunia harus bersabar menunggu penelitian ini selesai pada tahun 2018 untuk mendapat hasil penelitian seluruhnya serta mengetahui ekstrak ganja dengan tingkat konsentrasi apa yang paling efektif untuk penderita autisme.

Sebelumnya sudah ada banyak bukti anekdotal bahwa pengobatan dengan ganja medis sangat membantu anak-anak dan orang dewasa dengan bentuk autisme yang parah. Di Amerika Serikat, kelompok-kelompok advokasi berkampanye agar autisme mendapat akses pengobatan di negara-negara bagian Amerika Serikat dimana ganja medis dilegalkan. Beberapa negara bagian, seperti Pennsylvania, kini mulai mengizinkan pasien autisme mengakses ganja medis untuk membantu mengatasi gejala-gejala yang merugikan diri sendiri dan lingkungannya. Sayangnya di sebagian besar negara lain di seluruh dunia, termasuk Indonesia, hal tersebut belum dapat diwujudkan karena ganja masih digolongkan dalam daftar narkotika berbahaya. (Ibob Atsuga)

Sumber : herb.co & marijuanaresources.com