Sidang perdana kasus pengobatan penyakit langka, syringomyelia, dengan tanaman ganja dilaksanakan di Pengadilan Negeri Sanggau, Selasa (2/5/2017). Agenda sidang pertama adalah pembacaan dakwaan dan Fidelis didampingi oleh pengacaranya, Marcelina Lin, dari Firma Hukum Ranik. Pembacaan dakwaan berlangsung singkat dan menyisakan kejanggalan didalamnya.

Marcelina mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan eksepsi. “Dakwaan yang diberikan pertama kali adalah pasal 111(2), 113(2). & 116(1) UU Narkotika No 35 Tahun 2009. Namun dalam persidangan tadi, Fidelis didakwa dengan pasal 113(2), 111(2), & 116(1). Janggalnya, dalam sidang jaksa tidak menyebutkan ada perubahan dakwaan,” begitu tutup Marcelina.

Menurutnya, pihak kuasa hukum Fidelis seharusnya mendapatkan informasi terlebih dahulu apabila terjadi perubahan dakwaan.

Berdasarkan laporan kompas.com, Fidelis yang juga didampingi oleh keluarganya menjalani persidangan dengan kondisi baik. Kakak kandung Fidelis, Yohana Suyati mengatakan, “kondisi Fidelis terlihat sehat saat mengikuti persidangan tadi.”

Di samping itu, Fidelis yang ditangkap BNNK Sanggau pada 19 Februari 2017 sempat menitipkan pesan langsung kepada Ketua LGN, “tolong kawan-kawan lebih fokus pada sisi kemanusiaan yang menimpa istri saya (alm. Yeni). Jangan sampai hanya karena saya yang menanam ganja, saya saja yang mendapat sorotan tajam dari pemerintah. Sedangkan kematian istri saya tidak dihiraukan lagi.”

Hal ini senada dengan harapan Kuasa Hukum Fidelis, Marcelina, “Kita berharap majelis hakim lebih mementingkan sisi kemanusiannya sehingga Fidel bisa menjalani kehidupan bebas secepatnya bersama 2 buah hatinya.”

Tepat 32 hari setelah penangkapannya, istri Fidelis meninggal dunia pada 25 Maret 2017 karena tidak mendapatkan terapi ganja dari suaminya, Fidelis Ari Sudarwoto.

Sidang selanjutnya dengan agenda pembacaan eksepsi akan dilaksanakan pada selasa, 9 Mei 2017 di tempat yang sama.

Pasal dalam UU Narkotika No 35 Tahun 2009 yang dituduhkan kepada Fidelis :

  • pasal 111 (2); Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).
  • pasal 113 (2); Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).
  • pasal 116 (1); Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan I terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).