Ganja telah dibudidayakan di China selama berabad-abad, terutama untuk seratnya yang bisa di olah menjadi tali, kain dan kertas. Kain dari serat ganja yang berumur lebih dari 3.400 tahun telah ditemukan di makam Dinasti Shang di Hebei.

Serat itu diyakini merupakan basis dari bentuk kertas paling awal yang dibuat di negara ini. Sementara bagian tanaman lainnya, seperti biji dan daun, telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

Tidak ada angka resmi untuk jumlah pabrik yang tumbuh di China setiap tahun, namun perkebunan ganja mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dekade terakhir ini di China, baik untuk penggunaan obat komersial maupun kebutuhan lainnya. Pertumbuhan yang pesat ini dimungkinkan karena adanya penggunaan ganja untuk riset. Ilmuwan yang didanai pemerintah mempelajari pemanfaatan ganja untuk kebutuhan militer, termasuk sebagai obat dan kain untuk seragam.

Menurut World Intellectual Property Organization, penelitian terhadap ganja tersebut benar-benar lepas landas di China pada akhir tahun 1970-an ketika negara China melakukan perang dengan Vietnam. Militer perlu mengembangkan kain yang bisa membuat tentara tetap bersih dan kering di kelembaban Vietnam, dan ganja menawarkan serat alami yang bernafas dan bersifat antibakteri.

Studi lain mengeksplorasi penggunaan tanaman ganja di dunia medis sebagai obat di rumah sakit. Sebagai hasil dari penelitian tersebut, banyak dari paten di dunia medis terkait dengan ganja sekarang dipegang di China.

Hal ini telah memicu kekhawatiran di industri farmasi Barat. Di situs analisis pasar internasional, Investor Intel, Dr Luc Duchesne, seorang pengusaha dan ahli biokimia yang berbasis di Ottawa pun membenarkan hal tersebut.

“Karena ganja dalam pengobatan Barat mulai diterima, dominasi paten China menunjukkan bahwa ilmu farmasi ganja berkembang dengan cepat di China, melampaui kemampuan Barat. Obat tradisional China siap untuk memanfaatkan tren yang berkembang,” kata Duchesne sebagaimana dilansir dari South China Morning Post.

“Obat untuk mengatasi gangguan stres traumatis yang dikembangkan bersama oleh militer China adalah salah satu dari banyak produk dengan potensi pasar global. Dengan masuknya perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat, Kanada, Israel, Jepang dan Eropa, sektor ini diperkirakan akan tumbuh menjadi 100 miliar yuan di China dalam waktu lima tahun,” ujarnya menambahkan.

Dilihat dari antusiasme petani yang semakin meningkat untuk menanam segala varietas ganja, Sativa maupun Indica. Namun ganja tetaplah ganja, perkebunan besar dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan menyebabkan masalah sosial.

Tan Xing, presiden Hemp Investment Group, salah satu firma hukum China terbesar yang membantu mengadvokasi penggunaan ganja untuk kebutuhan komersial mengatakan perusahaannya telah bermitra dengan Tentara Pembebasan Rakyat China untuk membawa teknologi dan produk ganja dari China kepada dunia.

Perkebunan ganja di China berkembang berkat spesies hibrida yang tidak hanya bertahan namun berkembang di lingkungan yang berbeda di negara tersebut. Setiap tahun di bulan April, Jiang Xingquan menyisihkan sebagian ladangnya di China utara untuk menanam ganja. Ukuran lahan sangat bervariasi tergantung dengan permintaan pasar. Dalam beberapa tahun terakhir ini, ia sudah mengurus sekitar 600 hektar perkebunan Ganja.

Seperti setiap petani ganja lainnya di Hexin di provinsi Heilongjiang di dekat perbatasan Rusia, Jiang menanam tanaman secara legal. Petani menjual batang tanaman ke pabrik tekstil untuk membuat kain berkualitas tinggi, daun ke perusahaan farmasi untuk obat-obatan, dan biji-bijiannya ke perusahaan makanan untuk membuat makanan ringan, minyak goreng dan minuman.

Bagi petani, hasil panen ganja adalah emas hijau, menghasilkan lebih dari 10.000 yuan (US$ 1.500) per hektar, dibandingkan dengan hanya beberapa ribu yuan untuk tanaman yang lebih umum seperti jagung. Ganja juga memiliki ketahanan yang luar biasa sehingga tidak membutuhkan pestisida mahal. “Itu keuntungan bersih” kata Jiang.

Perkebunan Jiang berada di utara China dan merupakan salah satu pusat utama pertanian di daerah tersebut. Pihak berwenang di provinsi Heilongjiang menutup mata terhadap produksinya sebelum mengesahkan dan mengaturnya tahun lalu.

Daerah perkebunan ganja milik Jiang lainnya adalah di provinsi Yunnan dimana produksi secara massal disana telah diatur sejak tahun 2003. Bersama-sama, perkebunan ganja milik Jiang mencakup sekitar setengah dari lahan ganja komersial legal di seluruh China, menurut data yang tercatat di Biro Statistik Nasional China.

Berkat dukungan pemerintah dan tradisi ganja yang panjang, China telah diam-diam menjadi negara adikuasa dalam produksi dan penelitian tanaman ganja.

Ibob Atsuga