Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di rumah sakit negeri di seluruh Indonesia.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar Kemenkes RI tahun 2007, jumlah penderita stroke 8,3 per 1000 penduduk. Kemudian di tahun 2013 melonjak menjadi 12,1 per 1000 penduduk. Jumlah penderita stroke diperkirakan terus meningkat sejalan dengan melonjaknya faktor risiko dan penduduk usia lanjut.

Sedangkan menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), Indonesia tempati urutan pertama di dunia dalam jumlah terbanyak penderita stroke. Angka kejadian stroke meningkat secara deramatis seiring usia. Setiap penambahan usia 10 tahun sejak usia 35 tahun, risiko stroke meningkat dua kali lipat. Sekitar lima persen orang berusia di atas 65 tahun pernah mengalami setidaknya satu kali stroke.

Berdasarkan data, prevalensi hipertensi sebagai faktor risiko utama makin meningkat di Indonesia hingga mencapai sekitar 95%. Maka para ahli epidemiologi meramalkan bahwa saat ini dan masa yang akan datang sekitar 12 juta penduduk Indonesia yang berumur diatas 35 tahun mempunyai potensi terkena serangan stroke.

Selama ini, satu di antara enam orang berisiko terkena stroke. Jumlah penderita stroke yang bisa ditangani juga kecil sekali hanya 25 persen. Bahkan 15 persen di antaranya meninggal dunia.

Stroke adalah serangan otak yang timbul secara mendadak di mana terjadi gangguan fungsi otak sebagian atau menyeluruh sebagai akibat dari gangguan aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak, sehingga menyebabkan sel-sel otak kekurangan darah, oksigen atau zat-zat makanan dan akhirnya dapat terjadi kematian pada sel-sel tersebut dalam waktu yang relatif singkat.

Stroke dapat menyebabkan kerusakan sementara maupun permanen, tergantung berapa lama terganggunya aliran darah dan bagian otak mana yang rusak. Kejang-kejang, tidak bisa bergerak, sulit untuk berbicara atau menelan, hilang ingatan, emosional, dan rasa nyeri adalah komplikasi yang biasa terjadi setelah serangan stroke. Jika stroke merusak bagian kanan otak, kemampuan untuk bergerak dan indra perasa sebelah kiri dapat tergangggu. Kerusakan otak sebelah kanan juga menyebabkan terganggunya kemampuan untuk bicara.

Banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke. Termasuk dalam hal itu ialah obesitas, banyak mengonsumsi alkohol, menggunakan kokain dan metamfetamin, merokok, dan kurang berolahraga. Mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, penyakit kardiovasular atau masalah tidur yang mengganggu (sleep apnea) juga memiliki resiko tinggi untuk mengalami serangan stroke. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih kerap mengabaikan pengendalian tekanan darah tinggi atau hipertensi yang merupakan faktor risiko yang pendominasi terjadinya stroke.

Menangani stroke iskemik (stroke yang disebabkan karena adanya hambatan atau sumbatan pada pembuluh darah otak di area tertentu sehingga area otak yang tersendat oleh darah tersebut tidak mendapat pasokan energi dan oksigen, sehingga akhirnya jaringan sel-sel otak di area tersebut mati dan tidak berfungsi lagi), para pekerja medis profesional bekerja untuk memulihkan aliran darah secepat mungkin mengikuti prosedur standar perawatan, termasuk pemberian aspirin atau Tissue Plasminogen Activator (TPA) yang merupakan obat penghilang gumpalan. Dalam beberapa kasus, diperlukan kateter untuk menghilangkan gumpalan yang memblokir aliran darah.

Sedangkan dalam menangani stroke hemoragik (kerusakan atau pembengkakan di dalam otak akibat pecahnya pembuluh darah di dalam atau di dekat otak), dokter akan mencoba untuk mengontrol pendarahan dengan obat anti-platelet atau melalui pembedahan untuk memperbaiki pembuluh darah yang bocor, dan penderita kemungkinan besar memerlukan rehabilitasi untuk memulihkan kemampuan fisik dan berbicara.

 Penemuan Studi: Dampak Ganja pada Stroke

Ganja telah terbukti efektif untuk membatasi kerusakan sel dan memberikan perlindungan saraf yang terjadi setelah gangguan iskemik seperti stroke. Manfaat ini disebabkan karena adanya salah satu senyawa kimia pada ganja, cannabidiol (CBD).  Pemberian CBD sesaat setelah serangan stroke terjadi ternyata melindungi sel saraf dan astrosit dari kerusakan, dan mengarah kepada perbaikan fungsional, histologi, biokimia, dan pemulihan fungsi saraf.

Hasil penelitian yang menunjukkan CBD sebagai pelindung sel saraf banyak ditemukan pada penelitian terhadap binatang. Anak babi yang diberi CBD sesaat setelah serangan iskemik mampu mengembalikan aktivitas elektrik otak hingga 46.6% dari rata-rata dan hanya 4 dari 8 kekejangan, dibandingkan kepada anak babi yang tidak diberi CBD , yang hanya pulih sekitar 20.5% dari penurunan aktivitas elektrik di otak mereka dan semua mengalami kekejangan. CBD mampu mengurangi kedua efek tersebut lebih dari 50%.

Penelitian pada tikus, CBD menunjukkan kemampuannya untuk mengurangi volume infark dan kerusakan otak akut dan apoptosis bila diberikan sesaat setelah seragan iskemik. Hanya satu penelitian yang menunjukkan bahwa pemberian CBD sebelum dan sesudah serangan stroke menghasilkan perlindungan saraf yang kuat.

Kerusakan otak yang terjadi setelah serangan stroke berkaitan dengan meningkatnya eksitotoksisitas (proses patologis di mana sel-sel saraf dirusak dan dibunuh oleh stimulasi yang berlebihan oleh neurotransmitter seperti glutamat dan zat serupa), stres oksidatif dan adanya pembengkakan. Namun, pemberian CBD sesaat setelah serangan stroke terjadi telah menunjukkan pencegahan secara efektif bagi ketiga masalah tersebut untuk terjadi.

Penemuan pelindung saraf ini juga terjadi pada manusia. Pemberian cannabinoid untuk manusia sesaat setelah terjadi serangan stroke dapat menyebabkan penurunan volume infark dan mendorong terjadinya pemulihan di area otak yang rusak dan area tersebut kemudian menunjukkan peningkatan fungsional yang baik setelah serangan stroke.

Penelitian menunjukkan bahwa pemberian cannabinoid sesaat setelah serangan stroke terjadi dapat mempercepat pemulihan secara jelas dan membatasi kerusakan. Sebuah studi pada hewan menemukan bahwa terapi pemberian CBD yang berulang kali selama 3 hari setelah serangan stroke terjadi menyebabkan peningkatan dalam pemulihan dan meningkatkan pertahanan tikus. Ketika CBD diberikan 5 hari setelah serangan stroke terjadi, tampaknya tidak mempengaruhi kerusakan iskemik.

—————————–

Jadi, melihat banyaknya penderita stroke di Indonesia, mahalnya terapi pasca stroke saat ini dan mempelajari dampak ganja yang sudah banyak diteliti berdasarkan ilmu pengetahuan; mungkinkah kelak tanaman ganja menjadi obat murah bagi masyarakat?

“Pemberian CBD sesaat setelah serangan stroke iskemik menyebabkan 50% peningkatan dalam pemulihan aktivitas listrik di otak dan adanya pengurangan sebanyak 50% kekejangan.” Neuroprotective effects of the nonpsychoactive cannabinodi cannabidiol in hypoxic-ischemic newborn piglets.

“Pemberian CBD mengurangi kerusakan dan apoptosis akut pada otak sesaat setelah serangan iskemik pada otak tikus.” The neuroprotective effect of cannabidiol in an in vitro model of newborn hypoxic-ischemic brain damage in mice is mediated by CB(2) and adenosine receptors

“Pemberian cannabinoid kepada manusia sesaat setelah stroke terjadi mengurangi pengingkatan volume infark dan menghasilkan peningkatkan fungsi otak.” Cannabinoids in experimental stroke: a systematic review and meta-analysis