Salah satu arsitek utama undang-undang legalisasi ganja Uruguay adalah Sebastián Sabini (36), yang merupakan seorang anggota parlemen dan anggota Kongres yang baru terpilih dari koalisi sayap kiri, sebagai kekuatan politik yang berkuasa sejak 2004.

Sabini mengaku bahwa dia adalah perokok ganja sesekali, yang membingkai legalisasi sebagai masalah keadilan sosial. “Sektor yang menanggung dampak kebijakan narkoba adalah yang paling miskin, karena orang-orang yang dipenjara adalah orang-orang miskin,” ujarnya sebagaimana dikutip dari NYTIMES.

Alasan itu bersahutan dengan presiden berkuasa saat itu, José Mujica, yang akhirnya mengesahkan produksi dan penjualan ganja. Karena menurutnya, pemerintah Uruguay tengah berupaya keras memberantas dan mengusir para pedagang narkotika dan obat bius, yang kerap bersembunyi di balik pasar gelap ganja.

“Yang lebih buruk daripada kecanduan narkoba adalah perdagangan narkoba,” kata Mujica dalam sebuah wawancara di tahun 2014 dengan laSexta, sebuah jaringan berita Spanyol.

Hukum Uruguay telah diluncurkan secara bertahap. Setelah lewat pada bulan Desember 2013, pengguna yang terdaftar di lembaga pemerintah diizinkan untuk menanam sebanyak enam tanaman di rumah untuk keperluan pribadi.

Sampai saat ini, hampir tujuh ribu orang telah melakukannya. Perundang-undangan tersebut juga mengizinkan adanya ‘klub’ yang berisi sekitar 45 orang, untuk mengoperasikan rumah penanaman ganja dengan batas 99 batang tanaman, yang diperuntukkan khusus untuk penggunaan pribadi anggotanya.

Untuk penjualan komersial, beberapa eksekutif farmasi menawarkan untuk menjalankan distribusinya, karena mereka mengaku memiliki mekanisme untuk mengendalikan distribusi obat-obatan yang ampuh. Meskipun hal itu mungkin tidak begitu relevan untuk penjualan ganja rekreasi, tapi hal ini sesuai dengan visi pemerintah untuk kerangka kerja yang memungkinkan, namun tetap tidak mempromosikan penggunaan ganja sebagai sebuah kewajaran seperti halnya rokok.

Juan José Rodríguez, yang telah menjalankan apotek mandiri bersama istrinya di ibukota Montevideo selama 17 tahun, mengaku bahwa sejak undang-undang tersebut disahkan, dia kerap mencium bau ganja ke mana pun dia pergi.

“Sebelumnya, perokok ganja merokok dengan agak diam-diam karena itu adalah sesuatu yang disukai masyarakat namun tidak diperbolehkan. Anda tahu Anda melakukan sesuatu yang tidak legal,” katanya. “Sekarang orang merokok dengan sangat mudah,”

Martín Morón, trombonis La Abuela Coca, yang merupakan band populer di Uruguay, memiliki profesi sebagai penanam ganja terdaftar dan seorang perokok ganja. Selama masa mudanya, kata Morón, membeli ganja berarti mengarungi bagian kota yang samar, yang seringkali terasa tidak aman. “Kini hal itu telah berubah drastis,” ujarnya.

(Ibob Atsuga)